Jagatmediakertanegara, Jakarta Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKB, Marwan Jafar, mendesak Bank Indonesia (BI) agar lebih aktif mengarahkan perbankan nasional untuk memprioritaskan pembiayaan ke sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta sektor ekspor.
Menurutnya, peran strategis BI sebagai otoritas makroprudensial sangat dibutuhkan untuk mengoreksi kecenderungan bank yang selama ini lebih nyaman menyalurkan kredit ke korporasi besar.
Marwan menyoroti data kinerja perbankan sepanjang 2025 hingga triwulan pertama 2026 yang menunjukkan tren kurang menggembirakan di sektor kerakyatan. Ia mengungkapkan, penyaluran kredit ke UMKM dan koperasi justru menurun dari Rp79 triliun menjadi Rp76 triliun.
“Sebagai otoritas yang mengomandoi sektor perbankan, BI seharusnya bisa mendorong bank negara maupun swasta agar tidak hanya fokus pada korporasi besar. Penurunan kredit UMKM ini perlu dijelaskan secara terbuka dan transparan kepada publik, jangan hanya disajikan dalam grafik yang sulit dipahami masyarakat,” ujar Marwan Jafar di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Legislator asal Jawa Tengah ini menegaskan bahwa penguatan sektor riil menjadi kunci penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Ia menilai, peran BI tidak hanya terbatas pada menjaga nilai tukar, inflasi, dan cadangan devisa, tetapi juga harus berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi masyarakat. Marwan juga menyoroti anggaran pengembangan UMKM di BI yang realisasinya belum optimal.
Selain itu, ia turut menyinggung kinerja devisa negara. Meski kondisi ekspor-impor masih relatif stabil, Marwan meminta BI memberikan penjelasan yang lebih rinci terkait proyeksi ekonomi 2026 yang dinilai cenderung melambat. Hal ini penting agar pelaku usaha memiliki kepastian dalam menyusun strategi ke depan.
“BI harus lebih serius mendorong perbankan agar berpihak pada UMKM dan eksportir. Penyaluran kredit ke sektor produktif ini sangat penting untuk memperkuat cadangan devisa sekaligus menjaga daya tahan ekonomi nasional secara menyeluruh,” ujarnya.
Marwan berharap BI tidak hanya fokus pada stabilitas moneter secara teoritis, tetapi juga menghadirkan solusi konkret bagi kendala pembiayaan yang dihadapi pelaku usaha kecil.
“Langkah konkret BI dalam mendorong perbankan diharapkan mampu membalikkan tren penurunan kredit UMKM menjadi pertumbuhan yang positif di sisa tahun 2026,” pungkasnya.












