Jagatmediakertanegara, Palembang – Video viral yang memperlihatkan rombongan Komisaris PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) berfoto di tikungan ekstrem Sitinjau Lauik, Sumatera Barat, terus menuai sorotan tajam dari publik. Aksi tersebut dinilai tidak hanya berisiko tinggi, tetapi juga mencerminkan kurangnya kehati-hatian di area yang dikenal sebagai salah satu jalur paling berbahaya di Indonesia.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat sejumlah anggota rombongan berhenti di kawasan Kelok Sitinjau Lauik untuk berfoto. Padahal, jalur tersebut terkenal dengan tikungan tajam, tanjakan curam, serta potensi kecelakaan yang tinggi, terutama bagi kendaraan yang berhenti sembarangan.
Peristiwa itu terjadi saat rombongan dalam perjalanan menuju Kota Solok. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian tersebut dibenarkan oleh Kapolres Solok Kota, AKBP Mas’ud Ahmad.
“Pada saat pukul 09.00 WIB, pada saat perjalanan menuju Kota Solok, ada berhenti di Kelok Sitinjau Lauik. Di mana awal mula kejadian pada saat rombongan menuju Kota Solok, tepatnya mendekati Sitinjau Lauik ada koordinasi di perjalanan antara salah satu pihak PT Pusri Palembang kepada pengawal untuk berhenti di atas,” ungkap Mas’ud saat konferensi pers dikutip, Jum’at (17/4/2026).
Aksi tersebut langsung menuai berbagai reaksi dari masyarakat. Banyak pihak menilai bahwa sebagai pejabat publik, para komisaris seharusnya memberikan contoh yang baik dalam mematuhi aturan keselamatan, terutama di jalur rawan kecelakaan seperti Sitinjau Lauik.
Publik juga menyoroti potensi bahaya yang bisa timbul, baik bagi rombongan itu sendiri maupun pengguna jalan lain. Kendaraan yang berhenti di tikungan sempit berisiko mengganggu arus lalu lintas dan meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan beruntun.
Dalam perkembangan isu ini, tiga nama komisaris PT Pusri menjadi sorotan publik, yakni Siti Nurizka Puteri Jaya yang merupakan politisi Partai Gerindra, Arteria Dahlan dari PDIP, serta Bambang Supriyambodo yang dikenal sebagai teman lama Presiden Joko Widodo.
Sorotan terhadap ketiga nama tersebut tidak lepas dari posisi strategis mereka sebagai komisaris di perusahaan BUMN sektor pupuk. Publik mempertanyakan siapa yang pertama kali mengusulkan berhenti di Sitinjau Lauik, dan apakah keputusan itu melalui pertimbangan risiko
Selain itu, apakah akan dilakukan evaluasi internal terhadap jajaran komisaris PT Pusri. Evaluasi tersebut dinilai penting untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang, sekaligus menjaga citra perusahaan di mata publik.
Insiden ini menjadi pengingat pentingnya penerapan standar operasional prosedur (SOP) perjalanan dinas, khususnya di wilayah dengan tingkat risiko tinggi. Keputusan untuk berhenti di lokasi berbahaya seharusnya melalui pertimbangan matang dan mengedepankan aspek keselamatan.
Di sisi lain, setelah dilakukan konfirmasi melalui pesan WhatsApp belum ada tanggapan klarifikasi dari pihak PT. Pupuk Sriwidjaja maupun dari para komisaris yang disebutkan.











