JAGATMEDIA, JAKARTA – Duka akibat tabrakan maut antara kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di kawasan Stasiun Bekasi Timur kembali bertambah. Jumlah korban meninggal dunia kini tercatat mencapai 16 orang setelah satu korban yang sempat menjalani perawatan intensif dinyatakan meninggal dunia. Data terbaru juga mencatat jumlah korban luka mencapai 91 orang.
Korban tambahan diketahui bernama Mia Citra (25), yang sebelumnya dirawat secara intensif di RSUD Kota Bekasi.
“Iya benar (bertambah jadi 16), info kami terima pukul 11.00 siang ini di RSUD Bekasi, perempuan MC 25 tahun,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto, Rabu (29/4/2026).
Dengan bertambahnya satu korban jiwa, tragedi ini semakin memperdalam luka bagi keluarga korban. Sebelumnya, 15 korban meninggal telah lebih dulu teridentifikasi, dan sebagian jenazah telah diserahkan kepada pihak keluarga oleh Rumah Sakit Polri Kramat Jati setelah proses identifikasi selesai.
Selain korban meninggal, sebanyak 91 orang mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut, 43 orang telah diperbolehkan pulang, sementara 48 lainnya masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.
Insiden tragis ini terjadi setelah rangkaian KRL berhenti akibat gangguan operasional yang dipicu insiden terpisah di perlintasan sebidang. Dalam situasi tersebut, kereta Argo Bromo Anggrek yang melaju dari belakang tidak berhasil berhenti tepat waktu dan menghantam bagian belakang KRL yang sedang berhenti di jalur. Dugaan awal penyebab tabrakan masih terus diselidiki oleh otoritas transportasi dan kepolisian.
Kepala Biro Kedokteran dan Kepolisian Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri, Brigjen Pol Nyoman Eddy Purnama Wirawan, sebelumnya menyebut para korban mengalami luka berat akibat kerasnya benturan.
Tragedi ini menjadi salah satu kecelakaan kereta paling memilukan dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus kembali memunculkan pertanyaan besar tentang sistem keselamatan transportasi rel di Indonesia.
Di balik angka korban yang terus bertambah, ada keluarga yang kehilangan, harapan yang terputus, dan desakan publik agar investigasi dilakukan secara transparan.












