Menu

Mode Gelap
Sriwijaya Fight Kembali Digelar, ICC Jadi Dewan Juri Ajang Bergengsi Boxing di Palembang YBH Sumsel Berkeadilan DPC Kota Palembang Gelar Capacity Building, Perkuat Komitmen Bantuan Hukum Gratis untuk Masyarakat Dugaan Kedekatan Oknum Anggota DPRD Sumsel dengan Tersangka Korupsi KUR Bank Sumsel Babel Jadi Sorotan Lawan Penipuan dari Balik Jeruji, HSB Dukung Ikrar Zero Halinar di Palembang Aparat Gabungan Razia Peredaran Tuak di Bawah Jembatan Ampera, Lima Jeriken Diamankan Modus Pakai KTP dan KK Warga, Kejati Sumsel Tetapkan 3 Tersangka Baru

Nasional

Di Tengah Banjir Hoaks, KWI Ingatkan Wartawan Jadi Penjaga Kebenaran dan Pembawa Damai

badge-check


					Di Tengah Banjir Hoaks, KWI Ingatkan Wartawan Jadi Penjaga Kebenaran dan Pembawa Damai Perbesar

Jagatmediakertanegara, Surabaya – Di tengah derasnya arus informasi digital dan maraknya penyebaran hoaks, Ketua Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI), Mgr Agustinus Tri Budi Utomo, mengingatkan wartawan untuk kembali pada jati dirinya sebagai penjaga kebenaran sekaligus pembawa damai bagi masyarakat.

Pesan itu disampaikan Mgr Agustinus yang akrab disapa Mgr Didik saat menerima kunjungan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Wisma Uskup Keuskupan Surabaya, Jalan Darmo, Kota Surabaya, Kamis (30/4/2026).

img width="300" height="600" src=" "

Dalam pertemuan tersebut, ia menegaskan bahwa di tengah derasnya disinformasi, wartawan memegang peran strategis sebagai penyampai fakta yang akurat dan bertanggung jawab.

“Jadilah saksi kebenaran yang membawa damai,” ujar Mgr Didik.

Menurutnya, tugas jurnalis tidak berhenti pada menyampaikan informasi semata, tetapi juga memastikan setiap berita yang disampaikan telah melalui proses verifikasi yang benar.

Ia menilai, di tengah situasi ketika informasi palsu dapat menyebar dalam hitungan detik, wartawan harus menjadi benteng terakhir penjaga akurasi.

Rombongan PWKI yang hadir dalam kunjungan tersebut terdiri atas AM Putut Prabantoro selaku founder, Mayong Suryo Laksono sebagai penasihat, Asni OVier Dengen Paluin sebagai ketua, Lucius Gora Kunjana dan Stanislaus Jumar Sudiyana sebagai sekretaris, Bonfilio Mahendra Wahanaputra bidang hubungan antarlembaga, serta Yophiandi Kurniawan dan Algooth Putranto dari bidang hubungan luar negeri.

Turut hadir pula pengurus PWKI Surabaya, yakni Adrianus Adhi, Ambrosius Harto Manumoyoso, Petrus Riski, serta pegiat Dokumen Abu Dhabi, Rm Fadjar Tedjo Soekarno Pr.

Pertemuan ini juga menjadi tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman (MoU) terkait penggunaan resmi Bahasa Indonesia oleh Vatikan.

Kesepakatan itu ditandatangani antara Komsos KWI dan Prefek Dikasteri Komunikasi Vatikan, Dr Paolo Ruffini, di Vatikan pada 25 Maret 2026.

Mgr Didik menilai, momentum tersebut menunjukkan bahwa peran wartawan kini meluas, tidak hanya sebatas kerja jurnalistik, tetapi juga menyentuh diplomasi budaya dan penguatan identitas bangsa di level internasional.

“Kembalinya wartawan ke jati dirinya sebagai pewarta kebenaran dan perdamaian menegaskan bahwa kerja jurnalistik juga hadir dalam diplomasi budaya dan penguatan identitas Indonesia,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa media seharusnya menjadi ruang yang menyejukkan, membangun kesadaran publik, dan memperkuat persatuan.

“Jurnalisme bukan sekadar profesi. Ia adalah panggilan untuk melayani masyarakat, menjaga nurani publik, dan menghadirkan damai lewat kata-kata yang bertanggung jawab,” tegasnya.

Senada dengan itu, Ketua PWKI, Asni OVier Dengen Paluin, menyoroti tantangan besar yang dihadapi dunia jurnalistik di era media sosial.

Ia menegaskan maraknya konten tanpa verifikasi membuat peran wartawan profesional semakin krusial.

“Saat ini semakin banyak informasi yang tidak benar, sepihak, dan bahkan bersifat tendensius tanpa konfirmasi apa pun di media sosial. Di sini, peran wartawan sangat penting sebagai gatekeeper dan verifikator informasi,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan para jurnalis agar tidak terjebak pada pola komunikasi media sosial yang mengedepankan sensasi demi keuntungan pribadi.

“Wartawan jangan ikut-ikutan bergaya medsos hanya demi keuntungan pribadi lalu menyebarkan fitnah dan berita bohong,” tegasnya.

Pesan yang disampaikan dalam pertemuan ini menjadi pengingat kuat bahwa di tengah banjir informasi digital, wartawan tetap memegang tanggung jawab moral sebagai penjaga kebenaran dan suara yang menghadirkan ketenangan bagi publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sriwijaya Fight Kembali Digelar, ICC Jadi Dewan Juri Ajang Bergengsi Boxing di Palembang

10 Mei 2026 - 17:44 WIB

YBH Sumsel Berkeadilan DPC Kota Palembang Gelar Capacity Building, Perkuat Komitmen Bantuan Hukum Gratis untuk Masyarakat

10 Mei 2026 - 12:39 WIB

Kejati Sumsel Selamatkan Rp1,2 Triliun Uang Negara dari Kasus Dugaan Korupsi Kredit Bank Pemerintah

7 Mei 2026 - 21:05 WIB

DPR Desak Audit Menyeluruh Bus ALS Usai Tragedi Maut di Muratara

7 Mei 2026 - 13:47 WIB

Vonis 2 Tahun untuk WNA Terdakwa KDRT di Pekanbaru Picu Kemarahan Publik, Korban: “Saya Cacat Seumur Hidup, Di Mana Keadilan?”

6 Mei 2026 - 12:58 WIB

Trending di Hukum