JAGATMEDIA, LAMONGAN – Di tengah keterbatasan yang dihadapi sebagai ibu sekaligus pendidik, dua guru di MTs Muhammadiyah 20 Menongo, Desa Menongo, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, menunjukkan dedikasi yang mengundang apresiasi. Demi tetap menjalankan tugas mengajar, mereka membawa sekaligus menggendong anak balitanya ke dalam ruang kelas saat proses pembelajaran berlangsung.
Kedua guru tersebut, Hana Rafiqa Rahmawati, S.Pt. dan Mukzizah Ayu Afriyanti, S.Pd., memilih tetap hadir di hadapan para siswa meski harus menjalankan peran ganda sebagai pendidik dan ibu. Keterbatasan dalam memperoleh pengasuh menjadi salah satu alasan mereka membawa buah hati ke sekolah.
Di sela-sela aktivitas mengajar, keduanya tetap berupaya menjaga kualitas pembelajaran. Saat menjelaskan materi di depan kelas, mereka sesekali menggendong anak, sementara pada waktu tertentu membiarkan sang buah hati bermain di tempat yang aman ketika para siswa mengerjakan tugas.
Pihak MTs Muhammadiyah 20 Menongo memberikan dukungan terhadap kondisi tersebut. Kepala sekolah memilih mengedepankan pendekatan kemanusiaan dengan memberikan izin kepada kedua guru untuk membawa anak mereka ke lingkungan sekolah.
Menurut pihak sekolah, kebijakan tersebut diambil karena memahami tidak semua guru memiliki pilihan lain dalam mengasuh anak ketika harus menjalankan tugas mengajar.
“Tidak ada seorang ibu pun yang ingin merepotkan jika ada pilihan lain,” demikian penjelasan Kepala MTs Muhammadiyah 20 Menongo mengenai kebijakan tersebut.
Dukungan juga datang dari rekan sesama guru serta para wali murid. Mereka menerima kehadiran anak-anak tersebut di lingkungan sekolah dan, dalam beberapa kesempatan, turut membantu menjaga balita ketika kedua guru sedang fokus menyampaikan materi pelajaran.
Meski menjalankan peran ganda, Hana Rafiqa Rahmawati dan Mukzizah Ayu Afriyanti menegaskan komitmennya untuk tetap mengutamakan profesionalisme dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.
“Kami berjanji akan tetap menjaga profesionalitas. Mengajar dengan sungguh-sungguh, mendidik dengan ikhlas, dan tetap menjaga ketertiban kelas,” ujar keduanya.
Kisah kedua guru tersebut menjadi gambaran bahwa tantangan yang dihadapi tenaga pendidik tidak hanya berkaitan dengan proses belajar mengajar, tetapi juga bagaimana menyeimbangkan tanggung jawab sebagai orang tua. Dukungan lingkungan sekolah yang mengedepankan empati dinilai menjadi salah satu faktor penting agar proses pendidikan tetap berjalan tanpa mengesampingkan kebutuhan keluarga.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, semangat mengabdi yang ditunjukkan kedua guru itu menjadi inspirasi bahwa dedikasi terhadap dunia pendidikan dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab sebagai seorang ibu.
Editor : Lina
Menjadi bagian dari Jagat Media sejak Juni 2026 dengan wilayah liputan Kabupaten Lamongan dan sekitarnya. Berpengalaman meliput beragam isu, termasuk politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis, serta berbagai peristiwa di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.











