Menu ✖

Mode Gelap
Hari Sumpah Pemuda 2026, Ustadz Syamsul Kamal: Jangan Hanya Warisi Kemerdekaan, tetapi Keteladanan Ormas Forum Cakar Sriwijaya Kawal Pemusnahan Barang Ilegal Senilai Rp40,33 Miliar Ramli MS Pimpin Konsolidasi, Relawan Macan Asia Siap Kawal Provinsi ABAS Hingga ke Jakarta Pimpin Upacara Sumpah Pemuda ke-98, Wabup Toba Sampaikan Pesan Menpora: Bangun Generasi Patriotik dan Berempat Satres Narkoba Polres Ogan Ilir Gerebek Sarang Narkoba di Desa Arisan Deras, 2 Pengedar Ditangkap, 11,51 Gram Sabu Disita Kobarkan Semangat Sumpah Pemuda ke-98, Bupati Aceh Singkil Ajak Generasi Muda Berani Berkarya dan Mengukir Masa Depan

Opini

Bukan Sekadar Mengaji, AKQ Bangun Budaya Baca dan Kesadaran Diri dari Aceh Barat

badge-check


					Bukan Sekadar Mengaji, AKQ Bangun Budaya Baca dan Kesadaran Diri dari Aceh Barat Perbesar

JAGATMEDIA, MEULABOH – Akademi Kehidupan Qur’ani (AKQ) mengembangkan pendekatan pembelajaran berbasis masyarakat dengan memadukan pengajian Beut Droe (Ngaji Diri) dan Gerakan 15 Menit Membaca. Kegiatan yang berlangsung di kawasan Tugu Teuku Umar, Batee Puteh, Kabupaten Aceh Barat, ini bertujuan menumbuhkan budaya membaca, memperdalam pemahaman keislaman, sekaligus mendorong masyarakat untuk mengenali dan memperbaiki diri, Senin (27/10/2026).

Melalui kegiatan rutin tersebut, peserta tidak hanya diajak mendengarkan materi pengajian, tetapi juga membaca secara langsung, berdiskusi, bertukar pengalaman, dan merenungkan pesan yang diperoleh dari bacaan.

Bagi AKQ, membaca bukan sekadar menambah pengetahuan. Aktivitas tersebut juga menjadi sarana untuk memperluas wawasan, melatih cara berpikir, dan menghubungkan ilmu dengan kehidupan sehari-hari.

Pendekatan ini sejalan dengan upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan budaya literasi. Penguatan literasi sendiri menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan manusia yang berkelanjutan.

Membaca Sendiri, Memahami Lebih Dalam

Salah satu pendekatan yang diterapkan dalam pengajian Beut Droe adalah memberikan kesempatan kepada setiap jamaah untuk membaca langsung kitab Kasyaf Sejati dalam bahasa Indonesia.

Setelah membaca, peserta diajak mendalami isi bacaan bersama pemateri. Melalui proses tersebut, jamaah diharapkan tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu menghubungkan pesan yang dibaca dengan pengalaman dan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.

Metode ini menempatkan peserta sebagai bagian aktif dalam proses belajar. Mereka tidak sekadar menerima penjelasan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menelaah gagasan, mengajukan pertanyaan, dan melakukan perenungan.

Dalam konteks Beut Droe, proses belajar tersebut diarahkan pada upaya mengenali diri atau muhasabah. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi diri dan mendorong perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.

Gerakan 15 Menit Membaca Dipadukan dengan Kajian Al-Qur’an dan Hadis

Selain membaca kitab, kegiatan AKQ juga diisi dengan pembacaan lima ayat Al-Qur’an beserta terjemahannya dan lima hadis. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman, diskusi, serta tanya jawab.

Gerakan 15 Menit Membaca menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut. Melalui program ini, masyarakat didorong untuk menyediakan waktu khusus setiap hari guna membaca buku dan memperluas wawasan.

Kebiasaan membaca diharapkan tidak hanya tumbuh ketika seseorang mengikuti majelis ilmu, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dengan menggabungkan literasi, pengajian, dan diskusi, AKQ berupaya menghadirkan ruang belajar yang terbuka bagi masyarakat. Proses pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah atau lembaga formal, tetapi juga dapat berkembang melalui komunitas dan kegiatan sosial.

Dua Kajian Dijadwalkan pada Minggu, 25 Oktober 2026

Dalam agenda pengajian yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (25/10/2026), AKQ menyiapkan dua kajian kitab bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung pukul 08.00–10.00 WIB di kawasan Tugu Teuku Umar, Batee Puteh, Kabupaten Aceh Barat.

Ustadz Syamsul Kamal dijadwalkan mengkaji kitab Kasyaf Sejati, sedangkan Tgk. Asy’ari Mukhtar Harib, M.A., dijadwalkan membahas kitab Kasyful Ghaibiyah.

Kedua kajian tersebut menjadi bagian dari upaya memperdalam pengetahuan keislaman dan menghubungkan pembelajaran agama dengan pembinaan diri serta pembentukan akhlak.

Kegiatan ini ditujukan bagi masyarakat yang ingin belajar, membaca, berdiskusi, dan memperdalam pemahaman agama dalam suasana kebersamaan.

Membangun Karakter melalui Kebiasaan Belajar

AKQ memandang keberhasilan sebuah majelis ilmu tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta atau banyaknya materi yang disampaikan. Perubahan kebiasaan, bertambahnya pemahaman, dan tumbuhnya kesadaran untuk memperbaiki diri juga menjadi hal penting dalam proses pembelajaran.

Karena itu, gerakan literasi berbasis masyarakat berpotensi dikembangkan melalui kolaborasi antara komunitas, lembaga pendidikan, perpustakaan, organisasi kepemudaan, pemerintah, dan para pegiat literasi.

Kolaborasi tersebut dapat memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan, membuka ruang diskusi, serta mendorong tumbuhnya kebiasaan belajar sepanjang hayat.

AKQ juga mengajak masyarakat menjadikan majelis ilmu sebagai ruang untuk terus belajar, bertanya, berbagi pengalaman, dan melakukan evaluasi diri.

Semangat pembinaan tersebut terangkum dalam slogan, “Perbaiki Shalatmu, Allah akan Perbaiki Hidupmu.”

Dari Aceh Barat untuk Budaya Belajar yang Lebih Luas

Akademi Kehidupan Qur’ani (AKQ) merupakan wadah pembinaan dan pembelajaran masyarakat yang berfokus pada pengkajian nilai-nilai Al-Qur’an, penguatan spiritualitas, pengembangan literasi, dan pembentukan karakter.

Dalam menjalankan kegiatannya di Kabupaten Aceh Barat, AKQ mendapat dukungan dari Yayasan Pusat Peradaban Insani (YPPI), yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah, sosial, literasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Melalui program Beut Droe dan Gerakan 15 Menit Membaca, AKQ berupaya membangun budaya belajar yang berangkat dari langkah sederhana, yakni meluangkan waktu untuk membaca, membuka ruang diskusi, dan menjadikan ilmu sebagai sarana memperbaiki diri.

Upaya tersebut menunjukkan bahwa pembangunan peradaban tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga dengan kualitas manusia yang mau belajar, berpikir, menjaga akhlak, dan terus memperbaiki diri.

Editor : Lina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hari Sumpah Pemuda 2026, Ustadz Syamsul Kamal: Jangan Hanya Warisi Kemerdekaan, tetapi Keteladanan

28 Oktober 2026 - 17:53 WIB

Kapolres Aceh Singkil Beserta Staf dan Jajaran Ucapkan Selamat Hari Sumpah Pemuda

28 Oktober 2026 - 13:46 WIB

1,2 Ton Sabu-Sabu Di Temukan Di Pidie, Ajudan Aceh: Siapa Peran Utama Dibalik Pabrik Narkoba Tersebut

24 Oktober 2026 - 08:50 WIB

BOK Puskesmas Rp 11,6 Miliar Disorot, AMPAS: BPK Harus Audit Kinerja, Jangan Hanya Sampel

23 Oktober 2026 - 12:08 WIB

Polres Ogan Ilir Gelar Sertijab Kasat Resnarkoba dan Kapolsek Pemulutan, Kapolres Tekankan Profesionalisme dalam Bertugas

22 Oktober 2026 - 10:07 WIB

Trending di Opini