JAGATMEDIA, PALEMBANG, 9 September 2026 – Antrean panjang kendaraan pengangkut barang untuk mendapatkan BBM jenis solar kembali menjadi sorotan di Kota Palembang. Sejumlah kendaraan Fuso terlihat mengular di salah satu SPBU yang berada di Jalan H. Abdul Rozak, kawasan 2 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II.
Panjangnya antrean membuat sejumlah kendaraan harus menunggu hingga menggunakan bahu jalan. Kondisi ini tidak hanya menyita waktu para sopir, tetapi juga berpotensi mengganggu pengguna jalan lainnya yang melintas di kawasan tersebut.
Bagi para sopir, persoalan ini bukan sekadar menunggu giliran mengisi BBM. Waktu yang terbuang dalam antrean dinilai berdampako om langsung terhadap aktivitas mereka dalam mencari nafkah.
Salah seorang sopir, WN (53), mengungkapkan bahwa penerapan sistem barcode yang harus disesuaikan dengan STNK kendaraan membuat proses pengisian solar dirasakan semakin sulit.
“Sejak pengisian bahan bakar solar menggunakan barcode dan STNK, kami para sopir agak mengalami sedikit kesulitan. Terlebih lagi waktu kami untuk menarik muatan berkurang karena terlalu lama menunggu antrean solar,” ujar WN.
Menurut para sopir, berkurangnya waktu untuk melakukan perjalanan otomatis dapat memengaruhi jumlah ritase atau tarikan yang dapat mereka selesaikan dalam sehari. Padahal, bagi sebagian sopir kendaraan Fuso, jumlah ritase menjadi salah satu penentu penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Persoalan lain yang turut dikeluhkan adalah pembatasan jumlah pengisian solar. Para sopir menyebut jumlah pengisian yang dibatasi sekitar Rp1 juta dalam satu kali pengisian membuat mereka harus memperhitungkan kembali kebutuhan BBM, terutama ketika membawa muatan dengan jarak tempuh yang cukup jauh.
Kondisi tersebut dinilai semakin terasa bagi sopir lintas daerah yang harus menghitung kebutuhan bahan bakar berdasarkan jarak perjalanan, beban kendaraan, serta kemungkinan antrean saat hendak mengisi kembali BBM.
Di sisi lain, para sopir mengaku memahami bahwa antrean hingga ke bahu jalan dapat mengganggu pengguna jalan lainnya. Mereka berharap persoalan tersebut tidak hanya dilihat sebagai masalah antrean kendaraan, tetapi juga dicari akar persoalannya agar ada solusi yang tidak merugikan sopir maupun masyarakat pengguna jalan.
Para sopir berharap pihak terkait, termasuk Pertamina dan instansi yang berwenang, dapat memberikan solusi terhadap persoalan tersebut. Mereka menginginkan sistem penyaluran solar tetap tertib dan tepat sasaran, namun di sisi lain tidak membuat sopir harus kehilangan banyak waktu hanya untuk mendapatkan BBM.
“Kami bukan tidak mau mengikuti aturan. Kami hanya berharap ada jalan keluarnya, supaya pengisian solar tidak terlalu menyulitkan dan kami tetap bisa bekerja mencari nafkah,” demikian harapan para sopir.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari pihak pengelola SPBU maupun Pertamina terkait keluhan para sopir mengenai antrean, penerapan barcode yang harus sesuai dengan STNK kendaraan, serta batas pengisian solar tersebut.
Editor : Lina
Menjadi bagian dari Jagat Media sejak Agustus 2026. Berpengalaman meliput beragam isu, termasuk politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis, serta berbagai peristiwa di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.







