JAGATMEDIA, LAMONGAN – Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, nilai-nilai gotong royong dan kepedulian terhadap sesama tetap hidup dan terjaga di Dusun Babatan, Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan. Salah satu buktinya adalah keberadaan Jamaah Fardhu Kifayah Dusun Babatan, organisasi sosial keagamaan yang selama ini menjadi garda terdepan dalam membantu warga ketika terjadi musibah kematian.
Organisasi tersebut hadir untuk memastikan setiap warga yang meninggal dunia mendapatkan hak-haknya secara layak, sekaligus meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Menariknya, amanah besar itu kini dijalankan oleh empat pemuda, yakni M. Dio, Aldi, Rifki, dan Fimbar, yang dipercaya menjadi pengurus penarikan iuran kematian di lingkungan dusun.
Dalam menjalankan tugasnya, keempat pemuda tersebut mengenakan seragam hitam lengkap dengan sarung dan peci. Berbekal buku catatan, mereka mendatangi rumah warga dari pintu ke pintu setiap kali ada kabar duka untuk menghimpun iuran kematian. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa kepedulian sosial tidak mengenal usia, sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda mampu mengambil peran penting dalam menjaga tradisi gotong royong di tengah masyarakat.
Dengan jumlah sekitar 190 kepala keluarga (KK), Jamaah Fardhu Kifayah Babatan selalu siaga selama 24 jam. Tidak ada jadwal khusus karena musibah bisa datang kapan saja. Begitu menerima informasi adanya warga yang meninggal dunia, para pengurus langsung bergerak cepat agar seluruh proses dapat berjalan dengan baik, tertib, dan penuh rasa empati.
Jamaah Fardhu Kifayah Babatan mengusung filosofi “Hidup Mulia, Mati Husnul Khotimah” sebagai landasan dalam setiap kegiatan. Filosofi tersebut mengandung makna bahwa kehidupan bermasyarakat harus dilandasi semangat saling membantu, sedangkan ketika seseorang meninggal dunia, seluruh warga bersama-sama bergotong royong agar keluarga yang ditinggalkan tidak terbebani, baik secara ekonomi maupun psikologis.
Dana yang dihimpun dari masyarakat dikelola secara terbuka dan digunakan sepenuhnya untuk kepentingan warga. Pengurus tidak mengambil keuntungan pribadi, melainkan mengembalikan seluruh dana dalam bentuk pelayanan sosial yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, dana yang terkumpul dialokasikan untuk dua kebutuhan utama. Pertama, membantu biaya perawatan jenazah, mulai dari penyediaan perlengkapan pemakaman, konsumsi bagi pelayat, hingga kebutuhan selama proses pemakaman berlangsung. Bantuan tersebut juga bersinergi dengan Jamaah Yasin dan Tahlil di tingkat RT maupun sumbangan sukarela dari masyarakat sehingga mampu mengurangi beban keluarga yang sedang berduka.
Kedua, sebagian dana digunakan untuk pemeliharaan tempat pemakaman umum Dusun Babatan. Dengan demikian, area pemakaman tetap terawat, bersih, dan nyaman sebagai bentuk penghormatan kepada para almarhum.
Keberadaan Jamaah Fardhu Kifayah Dusun Babatan menjadi contoh nyata bagaimana sistem sosial berbasis kearifan lokal masih mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman. Keterlibatan M. Dio, Aldi, Rifki, dan Fimbar juga menunjukkan bahwa regenerasi kepemimpinan sosial di tingkat dusun berjalan dengan baik.
Semangat “Hidup Mulia, Mati Husnul Khotimah” yang terus dijaga Jamaah Fardhu Kifayah Babatan diharapkan dapat menginspirasi desa maupun dusun lain untuk membangun solidaritas sosial yang kuat, mandiri, dan penuh kepedulian.
Di Dusun Babatan, kebersamaan tidak berhenti saat seseorang meninggal dunia, tetapi justru semakin terasa melalui gotong royong seluruh warga dalam mengantarkan sesama menuju peristirahatan terakhir dengan penuh kehormatan.
Editor : Lina
Menjadi bagian dari Jagat Media sejak Juni 2026 dengan wilayah liputan Kabupaten Lamongan dan sekitarnya. Berpengalaman meliput beragam isu, termasuk politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis, serta berbagai peristiwa di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.






