JAGATMEDIA, BANDA ACEH – Ribuan masyarakat memadati Lapangan Taman Ratu Safiatuddin, kompleks Pekan Kebudayaan Aceh (PKA), Banda Aceh, pada malam pertama Muzakarah Internasional Ulama Sufi ke-2 Tahun 2026, Jumat malam (9/10/2026). Lautan jemaah hadir untuk mengikuti pengajian dan zikir Rateb 1.000 dalam suasana religius yang penuh kekhusyukan.
Pemandangan tersebut menjadi salah satu momen yang menyita perhatian. Di tengah berbagai aktivitas hiburan dan kesibukan kehidupan modern, masyarakat dari berbagai kalangan berbondong-bondong menghadiri majelis ilmu dan zikir untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kehadiran ribuan jemaah bukan sekadar menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap kegiatan keagamaan. Momentum ini juga menjadi gambaran bahwa ruang spiritual, pengajian, dan bimbingan ulama masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Masyarakat yang memenuhi lokasi kegiatan seolah menyampaikan pesan bahwa di tengah kesibukan mengejar kehidupan duniawi, kebutuhan akan ketenangan batin, penguatan iman, dan persaudaraan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan umat.
Aceh, yang dikenal sebagai Serambi Mekkah, kembali memperlihatkan kuatnya tradisi keislaman melalui majelis zikir yang mempertemukan masyarakat dalam satu tujuan, yakni mengingat Allah SWT dan mempererat hubungan persaudaraan.
Dialog Ulama Lintas Negara Bahas Persatuan dan Perdamaian
Rangkaian Muzakarah Internasional Ulama Sufi ke-2 berlanjut pada Sabtu (10/10/2026) di Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh. Kegiatan tersebut menghadirkan dialog dan syarahan ulama dengan fokus pembahasan mengenai ajaran ihsan, spiritualitas, persatuan umat, dan perdamaian dunia.
Berdasarkan jadwal yang disampaikan dalam materi kegiatan, sesi pertama dimulai pukul 08.15 WIB dengan menghadirkan sejumlah ulama dari berbagai negara.
Syekh Muhyiddin Abdurrazaq dari Suriah dijadwalkan menyampaikan syarahan bertema “Ulama Sufi dalam Perspektif Spiritual untuk Membangun Perdamaian Dunia”.
Selanjutnya, Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy, Wali Agama Aceh, membawakan materi “Ajaran Ihsan sebagai Landasan Perdamaian Umat”.
Sementara itu, Prof. Dato’ Dr. H. Fakruddin bin Abdul Mukti dari Brunei Darussalam mengangkat tema “Mengangkat Kembali Ajaran Ihsan untuk Mempersatukan Umat Islam di Dunia”.
Pada sesi kedua yang dimulai pukul 14.00 WIB, pembahasan berlanjut pada perkembangan ajaran tasawuf dan tarekat di Nusantara serta kontribusi nilai-nilai kesufian dalam membangun persatuan dan perdamaian umat. Sejumlah pembicara dari Indonesia dan Malaysia turut dijadwalkan mengisi rangkaian forum tersebut.
Pertemuan lintas negara ini menjadi ruang pertukaran pandangan dan pengalaman keilmuan para ulama, sekaligus memperkuat pemahaman mengenai pentingnya nilai spiritual dalam membangun kehidupan umat yang harmonis.
Melalui dialog tersebut, ajaran tasawuf dan ihsan diharapkan tidak hanya menjadi pembahasan keilmuan, tetapi juga memberikan inspirasi bagi penguatan akhlak, toleransi, persaudaraan, serta upaya mewujudkan perdamaian di tengah masyarakat.
Ustadz Syamsul Kamal: Momentum Kebangkitan Spiritual Umat
Bagi Ustadz Syamsul Kamal, pemandangan ribuan masyarakat yang menghadiri majelis zikir merupakan momentum yang membangkitkan harapan terhadap penguatan kehidupan spiritual umat Islam.
Antusiasme masyarakat tersebut memperlihatkan potensi besar kegiatan keagamaan sebagai ruang untuk memperdalam pemahaman agama, mempererat hubungan antarsesama, serta menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT.
Harapannya, semangat tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan Muzakarah Internasional Ulama Sufi, tetapi terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari melalui penguatan ibadah, pendidikan akhlak, kepedulian sosial, dan persaudaraan di tengah masyarakat.
Muzakarah Internasional Ulama Sufi ke-2 juga diharapkan menjadi momentum untuk mempertemukan pemikiran para ulama lintas negara dalam mencari jalan penguatan persatuan umat Islam di tengah berbagai tantangan zaman.
Dari Aceh untuk Persatuan dan Perdamaian Dunia
Sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Islam di Nusantara, Aceh mempunyai peran penting dalam menjaga tradisi keilmuan, dakwah, dan pembinaan spiritual masyarakat.
Muzakarah Internasional Ulama Sufi ke-2 menjadi kesempatan untuk mengangkat kembali pentingnya nilai-nilai ihsan, ketulusan, dan akhlak mulia dalam membangun hubungan antarmanusia.
Pesan yang diharapkan lahir dari kegiatan ini bukan hanya tentang pentingnya berzikir dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT, melainkan juga bagaimana nilai-nilai spiritual diterapkan dalam kehidupan sosial melalui sikap saling menghormati, menjaga persaudaraan, dan menghindari perpecahan.
Ketika ribuan manusia berkumpul dalam majelis zikir, tumbuh harapan bahwa keimanan dapat menjadi kekuatan untuk mempererat persaudaraan dan membangun kehidupan yang lebih damai.
Dari Aceh, pesan persatuan dan perdamaian itu diharapkan terus bergema, menjangkau masyarakat Indonesia hingga komunitas umat Islam di berbagai belahan dunia.
Editor : Lina.
Sejak September 2026, menjadi bagian dari Jagat Media dengan area peliputan seluruh Indonesia. Mengulas beragam topik, mulai dari politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis, hingga berbagai peristiwa penting yang berkembang di tingkat lokal, nasional, dan internasional.











