JAGATMEDIA, BANDA ACEH – Ketua Yayasan Pusat Peradaban Insani (YPPI), Ustadz Syamsul Kamal, mendorong Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk hadir dan membuka secara langsung Muzakarah Internasional Ulama Tauhid dan Sufi ke-II yang digelar di Aceh.
Menurut Syamsul, kehadiran ulama dari berbagai negara dalam forum tersebut membuat muzakarah tidak hanya memiliki dimensi keagamaan, tetapi juga berpotensi menjadi ruang diplomasi keagamaan Indonesia di tingkat internasional.
Ia menilai kehadiran Presiden akan menjadi bentuk perhatian negara terhadap peran ulama sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia memberikan ruang bagi dialog keagamaan, perdamaian, dan penguatan persaudaraan antarumat.
“Ini sudah menjadi momentum internasional. Ketika ulama dari berbagai negara datang ke Aceh untuk bermuzakarah tentang tauhid, tasawuf, penyucian jiwa, persatuan umat dan persoalan kehidupan manusia, maka negara perlu melihatnya sebagai bagian dari kekuatan diplomasi keagamaan Indonesia,” ujar Ustadz Syamsul Kamal.
Menurutnya, kehadiran Presiden tidak berarti mengambil alih ruang keulamaan. Sebaliknya, hal tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan negara terhadap ulama dan tradisi keilmuan Islam yang berkembang di Indonesia.
Aceh dan Sejarah Panjang Ulama
Syamsul juga mengaitkan forum internasional tersebut dengan sejarah Aceh sebagai salah satu wilayah penting dalam perkembangan Islam di Nusantara.
Menurut dia, perjalanan Aceh tidak dapat dilepaskan dari peran ulama yang sejak dahulu memiliki kontribusi dalam pendidikan keagamaan sekaligus memberikan pandangan terhadap berbagai persoalan sosial dan kebangsaan.
Salah satu tokoh yang disebutnya adalah Abuya Syekh Muhammad Waly Al-Khalidy atau Abuya Muda Wali, ulama asal Labuhan Haji yang dikenal sebagai pendiri Dayah Darussalam dan memiliki peran dalam perkembangan pendidikan Islam serta tradisi tasawuf di Aceh.
“Dulu, Presiden Soekarno memiliki hubungan dengan para ulama Aceh, termasuk Abuya Muda Wali. Bahkan dalam sejarah perjalanan Republik, pandangan para ulama Aceh ikut menjadi bagian dari persoalan penting menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Syamsul.
Ia berharap hubungan historis antara kepemimpinan nasional dan ulama Aceh tersebut dapat menjadi inspirasi dalam melihat kembali peran Aceh sebagai ruang pertemuan keilmuan Islam.
“Kalau dahulu Presiden Republik Indonesia berdialog dengan ulama Aceh dalam persoalan besar bangsa, maka hari ini ketika Aceh kembali menjadi tempat berkumpulnya ulama dari berbagai negara, saya kira sangat pantas jika Presiden Republik Indonesia hadir membuka forum ini,” ujarnya.
Dari Aceh untuk Indonesia, dari Indonesia untuk Dunia
Syamsul menilai kedatangan ulama dari berbagai negara memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar jumlah peserta.
Menurutnya, Aceh memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pintu masuk dan pusat perkembangan Islam di kawasan Nusantara. Tradisi keilmuan yang tumbuh melalui dayah, kajian tauhid, fikih, dan tasawuf menjadi bagian dari identitas keislaman Aceh.
“Bayangkan, ulama dari berbagai negara duduk bersama di Aceh, bukan untuk berperang, bukan untuk berebut kekuasaan, tetapi untuk membicarakan tauhid, penyucian jiwa, akhlak, persatuan dan masa depan umat manusia. Ini adalah wajah Islam yang sangat penting untuk diperlihatkan kepada dunia,” ujarnya.
Ia mengatakan dunia tidak hanya membutuhkan kemajuan teknologi dan kekuatan ekonomi, tetapi juga membutuhkan nilai moral, spiritualitas, perdamaian, serta keteladanan dari para pemimpin dan tokoh agama.
Dalam konteks tersebut, Syamsul melihat Indonesia memiliki modal sosial dan keagamaan yang dapat diperkenalkan melalui forum internasional.
Dinilai Bisa Menjadi Diplomasi Keagamaan
Syamsul menyebut terdapat sejumlah ruang yang dapat dikembangkan melalui pertemuan ulama internasional tersebut, mulai dari diplomasi keagamaan, penguatan jaringan perdamaian, hingga kerja sama pendidikan dan pengembangan keilmuan Islam.
Menurutnya, pertemuan ulama lintas negara dapat membuka komunikasi yang melampaui batas geografis dan budaya.
“Kalau ulama-ulama dari berbagai negara datang ke Indonesia, kemudian mereka menemukan bahwa di Indonesia terdapat tradisi keilmuan Islam yang hidup, ulama yang dihormati, masyarakat yang religius dan negara yang memberikan ruang terhadap dialog keagamaan, maka itu menjadi soft power Indonesia yang sangat besar,” katanya.
Ia juga berharap forum tersebut dapat berkembang menjadi jaringan kerja sama dalam bidang pendidikan Islam, pesantren, penelitian, dakwah, kebudayaan, perdamaian, dan pembangunan manusia.
Berharap Presiden Bawa Pesan Perdamaian
Jika Presiden Prabowo Subianto hadir, Syamsul berharap momentum tersebut tidak berhenti pada seremoni pembukaan.
“Kalau Presiden hadir, saya berharap beliau menyampaikan pesan Indonesia kepada dunia. Bahwa Indonesia ingin menjadi bagian dari solusi bagi dunia yang sedang menghadapi berbagai konflik, perpecahan, krisis moral dan krisis kemanusiaan,” katanya.
Menurutnya, pesan tersebut akan memiliki makna tersendiri apabila disampaikan dari Aceh yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Islam di kawasan Asia Tenggara.
“Presiden bisa mengatakan kepada para ulama dunia bahwa Indonesia membuka pintu persaudaraan. Aceh menjadi tempat pertemuan. Ulama menjadi jembatan. Dan negara memberikan ruang agar ilmu, akhlak dan perdamaian dapat tumbuh,” ujarnya.
Syamsul juga berharap muzakarah tidak berhenti setelah rangkaian kegiatan selesai. Ia mendorong agar pertemuan tersebut menghasilkan jejaring yang dapat terus bekerja sama setelah para ulama kembali ke negara masing-masing.
“Jangan sampai setelah acara selesai, semuanya berhenti. Harus ada jejaring ulama internasional yang terus berkomunikasi. Harus ada pertukaran keilmuan. Harus ada kerja sama pendidikan. Harus ada agenda perdamaian. Kalau itu berhasil dibangun, maka Muzakarah ini akan memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada beberapa hari pelaksanaan acaranya,” tegasnya.
Aceh Didorong Kembali Menjadi Ruang Perjumpaan Ulama
Syamsul mengajak Pemerintah Aceh, pemerintah pusat, ulama, akademisi, pesantren, dayah, serta masyarakat memberikan dukungan terhadap forum tersebut.
Menurutnya, kedatangan ulama dari berbagai negara merupakan kesempatan untuk memperkenalkan Aceh bukan hanya melalui sejarahnya, tetapi juga melalui tradisi keilmuan dan spiritual yang masih berkembang hingga kini.
“Dunia mengenal Aceh karena sejarahnya. Tetapi sekarang kita ingin dunia mengenal Aceh karena ulama, ilmu, akhlak dan kontribusinya bagi perdamaian,” katanya.
Ia berharap Muzakarah Internasional Ulama Tauhid dan Sufi ke-II dapat menjadi ruang perjumpaan intelektual dan spiritual yang memberikan manfaat bagi Aceh, Indonesia, dan masyarakat dunia.
“Karena itu saya menyampaikan dengan penuh hormat kepada Bapak Presiden Republik Indonesia: jika agenda kenegaraan memungkinkan, datanglah ke Aceh dan bukalah Muzakarah Internasional ini,” ujarnya.
“Bukan semata-mata karena sebuah acara meminta dibuka oleh Presiden, tetapi karena ada pesan yang jauh lebih besar yang dapat dibawa dari Aceh ke dunia: bahwa Indonesia menghormati ulama, mencintai ilmu, menjunjung perdamaian dan siap mengambil bagian dalam membangun peradaban dunia yang lebih beradab,” lanjutnya.
“Dahulu para pemimpin bangsa berdialog dengan ulama Aceh ketika Republik sedang mencari jalan. Hari ini, ketika ulama dari berbagai penjuru dunia datang ke Aceh, mungkin inilah saatnya negara kembali duduk bersama para ulama untuk membicarakan masa depan umat manusia,” tutupnya.
Editor : Lina
Sejak September 2026, menjadi bagian dari Jagat Media dengan area peliputan seluruh Indonesia. Mengulas beragam topik, mulai dari politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis, hingga berbagai peristiwa penting yang berkembang di tingkat lokal, nasional, dan internasional.











