JAGATMEDIA, LAMONGAN – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2026 menjadi momentum untuk kembali melihat perjalanan sejarah Indonesia, termasuk berbagai pergolakan politik dan konflik yang terjadi setelah kemerdekaan.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan persatuan Indonesia tidak terlepas dari berbagai tantangan. Karena itu, pembelajaran sejarah dinilai penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, memahami latar belakang berbagai peristiwa secara kritis dan tidak hanya menerima satu versi narasi.
Sejumlah pergolakan pada masa awal kemerdekaan antara lain pemberontakan PKI di Madiun pada 1948, gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Republik Maluku Selatan (RMS), serta PRRI dan Permesta. BPIP mencatat peristiwa-peristiwa tersebut dalam pembahasan mengenai dinamika penerapan Pancasila pada masa awal kemerdekaan.
Memasuki dekade 1960-an, Indonesia kembali menghadapi ketegangan politik yang memuncak pada peristiwa Gerakan 30 September 1965. Peristiwa tersebut kemudian diikuti perubahan politik besar dan berbagai kekerasan serta tragedi kemanusiaan yang dampaknya masih menjadi bagian dari pembahasan sejarah Indonesia.
Sejarah Perlu Dibaca Secara Kritis
Mengingat kembali berbagai peristiwa tersebut bukan semata-mata untuk membuka kembali konflik masa lalu, melainkan untuk mengambil pelajaran dari perjalanan bangsa.
Sejarah dapat dipahami melalui berbagai sumber, termasuk arsip dan dokumen primer. Pendekatan berbasis arsip juga terus didorong dalam kajian sejarah nasional. BPIP, misalnya, bekerja sama dengan ANRI dalam penerbitan naskah sumber arsip mengenai proses perumusan dasar negara.
Pembacaan sejarah secara kritis juga penting agar masyarakat mampu membedakan antara fakta sejarah, interpretasi, propaganda, dan informasi yang belum terverifikasi.
Di era digital, kemampuan tersebut semakin relevan. Informasi mengenai sejarah dapat beredar dengan cepat melalui media sosial, tetapi tidak seluruh informasi memiliki dasar sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pancasila dan Kehidupan Berbangsa
Pancasila menjadi dasar negara sekaligus bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial menjadi bagian dari prinsip yang diharapkan diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
BPIP dalam berbagai programnya juga menekankan pentingnya aktualisasi nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pada 2026, BPIP mengangkat tema pembinaan ideologi Pancasila yang berkaitan dengan persatuan dan penguatan nilai Pancasila dalam kehidupan nasional.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, pengamalan Pancasila tidak hanya berkaitan dengan kegiatan kenegaraan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui toleransi, gotong royong, penghormatan terhadap perbedaan, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Pesan dari Lamongan
Di Lamongan, Jawa Timur, refleksi Hari Kesaktian Pancasila juga disuarakan oleh Sami’an, tokoh masyarakat yang menaruh perhatian pada pendidikan karakter.
Ia mengatakan peringatan Hari Kesaktian Pancasila seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diwujudkan melalui perilaku sehari-hari.
“Pancasila secara murni dan konsekuen harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” tegas Sami’an.
Menurutnya, pengamalan Pancasila dapat dimulai dari lingkungan terdekat.
“Sikap toleransi, gotong royong, kerja bakti, sikap tenggang rasa, menghormati perbedaan, dan menghargai pilihan orang lain adalah wujud nyata Pancasila di lingkungan terkecil kita,” tambahnya, Kamis, (1/10/2026).
Sami’an juga menyoroti peran generasi muda dalam memahami sejarah bangsa.
“Maju mundurnya suatu bangsa terletak pada pundak generasi muda sekarang. Jadikan sejarah peristiwa masa lalu yang ingin mengubah ideologi negara sebagai pelajaran untuk membangun pemahaman yang bijak dan kritis,” pungkasnya.
Tantangan di Era Digital
Memasuki era digital, pembelajaran sejarah menghadapi tantangan baru berupa derasnya arus informasi, termasuk hoaks, disinformasi, dan narasi sejarah yang tidak disertai sumber yang jelas.
BPIP sendiri pada 2026 menyoroti tantangan persatuan di ruang digital yang berkaitan dengan hoaks, disinformasi, dan perang narasi.
Karena itu, literasi sejarah menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan masyarakat untuk memeriksa sumber informasi. Generasi muda tidak hanya dituntut memahami peristiwa masa lalu, tetapi juga mampu membandingkan sumber, memeriksa dokumen, dan membedakan informasi yang terverifikasi dari narasi yang belum memiliki dasar yang kuat.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026 pada akhirnya dapat menjadi ruang refleksi mengenai perjalanan bangsa. Memahami pergolakan sejarah secara kritis, menghargai keberagaman, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari upaya menjaga persatuan Indonesia.
Semangat tersebut sejalan dengan gagasan bahwa Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan, tetapi perlu diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Editor : Lina
Menjadi bagian dari Jagat Media sejak Juni 2026 dengan wilayah liputan Kabupaten Lamongan dan sekitarnya. Berpengalaman meliput beragam isu, termasuk politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis, serta berbagai peristiwa di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.











